Positivisme
Auguste Comte serta Relevansinya
Abad ke 19 merupakan abad yang
sangat dipengaruhi oleh filsafat positivism, dan terutama pengaruh itu sangat
terasa dibidang ilmu pengetahuan.[2]
Oleh karena itu dalam filsafat Barat, orang sering menyatakan bahwa abad ke 19
merupakan “abad positivisme”, suatu abad yang sangat menentukan dari
fikiran-fikiran ilmiah. Atau apa yang disebut ilmu pengetahuan modern.
Kebenaran atau kenyataan filsafati dinilai dan diukur menurut nilai
positivistiknya, sedang perhatian orang kepada filsafat, lebih ditekankan
kepada segi-segi yang praktis bagi tingkah-laku dan perbuatan manusia. Orang
tidak lagi menganggap penting tentang “dunia yang abstrak”.[3]
Pendiri aliran filsafat
positivisme, Aguste Comte, telah menampilakan ajarannya yang sangat terkenal
yaitu yang disebut hukum tiga tahap (law of three stages), Melalui hukum
inilah ia menyatakan bahwa sejarah umat manusia, baik secara individual, maupun
secara keseluruhan, telah berkembang menurut tiga tahap, yaitu tahap teologi
atau fiktif, tahap metafisik atau abstrak, dan tahap positif atau ilmiah/riel.
Secara eksplisit pula ia tekankan bahwa istilah “positif” suatu istilah yang ia
jadikan nama bagi aliran filsafat yang dibentuknya sebagai sesuatu yang nyata,
pasti, jelas, bermanfaat, serta sebagai lawan dari sesuatu yang negatif [4].
Oleh Aguste Comte pengertian “perkembangan’ yang merupakan proses dari
berlangsungnya sejarah umat manusia, diberi isi dan arti yang “positif”, dalam
arti suatu gerak yang menuju kearah tingkat yang lebih maju, baginya
“perkembangan” itu merupakan penjabaran segala sesuatu sampai kepada objeknya
yang tidak personal.[5]
Pada proses selanjutnya
“positivism” Comte berpendapat
bahwa hanya ilmu pengetahuanlah sebagai satu-satunya sumber, sebagai standar
murni untuk mengukur segalanya, bukan teologi-metafisis dan bukan yang lainnya.
Sumber pengetahuan yang hanya didapatkan melalui pengamatan dan pengalaman
terhadap suatu objek yang nyata dan empirisistik. Dimana ia mempunyai mekanisme tersendiri dan instrument
mandiri yang sedikit lebih membedakannya dengan metodologi aliran
“empirisisme”. Comte juga perhatian dengan masalah-masalah kemasyarakatan
dimana dari tangannya inilah muncul sebuah disiplin ilmu yang pada awalnya
dikenal dengan istilah fisika sosial, telah berubah olehnya dengan istilah
sosiologi. Namun yang lebih ekstrim, Comte mencuatkan pemikiran dengan
mengusung religi baru, yang menyembah
kemanusiaan sebagai “the Great Being” (le Grand etre). Dan berdasarkan beberapa hal
tersebut, dalam makalah ini membahas gambaran pemikiran positivisme Auguste Comte serta
relevansinya bagi studi agama untuk resolusi
konflik dan peacebuilding.
Selengkapnya dapat diakses di : In Progress...
[2] Lihat, Koento Wibisono, Arti
Perkembangan; Menurut Filsafat Positivisme Aguste Comte, (Yogyakarta:
Gajahmada University Press, 1983), hlm. 1
[4] Aguste Comte, Het Positive
Denken, judul asli: Discours sur I’esprit Positif (1844), terj.
Henriet Plantega, pengantar dan catatan J.M.M de Valk. (Amsterdam: Boom Mepel,
1979), hlm. 92-94
.jpg)
0 komentar :
Posting Komentar